Dampak Kecerdasan Ganda terhadap Guru dan Strategi mengajar di kelas

Posted by Lowongan Kerja Cpns Terbaru Saturday, December 3, 2011 0 comments
Dampak Kecerdasan Ganda terhadap Guru dan Strategi mengajar di kelas :
1.    Guru perlu mengerti intelligentsia siswa-siswanya (makanya guru perlu mampu melakukan MIS, Multiple Intelligences Survei).
2.    Guru perlu mengembangkan model mengajar dengan berbagai kecerdasan, bukan hanya kecerdasan yang menonjol pada dirinya.  ini yang agak bermasalah, sebab perlu sedikit usaha guru untuk mampu belajar dengan keluar dari gaya belajarnya. Keuntungannya apabila guru mau melakukan itu adalah dua sisi, sisi pertama jelas pada para siswa, sisi kedua, guru itu sendiri mampu memantik kecerdasan dia lainnya, dan ini akan jadi pengalaman yang sangat menarik dan mengasyikan.
3.    Guru perlu mengajar dengan intelegensi siswa, bukan dengan intelegensinya yang berbeda dengan intelligensi siswa.
4.    Dalam mengevaluasi kemajuan siswa, guru perlu menggunakan berbagai model yang cocok dengan intelegensi ganda, bukan hanya dengan paper and test.
   

Strategi Mengajar di kelas dengan Multiple Intelligences
Armstrong memberikan beberapa strategi yang perlu diperhatikan dalam pengajaran dengan menggunakan teori intelligensi ganda. Secara umum strategi itu adalah sebagai berikut;

Intelligensi linguistik dapat dilakukan dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk bercerita, menuliskan kembali yang dipelajari, dengan brainstorming, membuat jurnal tentang materi yang dipelajari, atau menerbitkan majalah dinding. Dengan kata lain, setelah mempelajari topik tertentu siswa perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan pemikirannya dengan menuliskan kembali lewat kata-kata mereka sendiri. Misalnya, bila topiknya gaya sentrifugal (Fisika). Setelah mempelajari gaya tersebut, siswa diberi kesempatan untuk menuliskan pengertian mereka tentang gaya tersebut secara bebas atau mengungkapkan gagasannya secara lisan di depan kelas. Bila topiknya masalah keadilan, siswa dapat diminta untuk menulis ketidakadilan yang mereka alami dalam masyarakat.

Inteligensi matematis-logis dapat diwujudkan dalam bentuk menghitung, membuat kategorisasi atau penggolongan, membuat pemikiran ilmiah dengan proses ilmiah, membuat analogi dan sebagainya. Misalnya, dalam mempelajari berbagai zat, siswa dapat diminta untuk mengelompokkan macam-macamI benda ke dalam suatu klasifikasi yang bagi mereka lebih mudah    dimengerti. Setelah mempelajari penurunan rumus secara    matematis, siswa diminta untuk mengaplikasikan rumus itu ke dalam pemecahan persoalan yang baru. Di sini perlu diperhatikan jalan pikiran dan logika siswa dalam memecahkan persoalan. Dalam topik keadilan, misalnya, siswa diajak untuk menghitung berapa persen penduduk Indonesia yang miskin, yang diperlakukan tidak adil, dan diminta membuat tabel    tentang data tersebut.

Inteligensi ruang-visual dapat diungkapkan dengan visualisasi materi, dengan membuat sketsa, gambar, simbol grafik, mengadakan tour keluar kelas, mengadakan eksperimen di laboratorium, dan sebagainya. Misalnya, bila topiknya keadilan, kepada siswa dapat ditunjukkan film tentang penderitaan masyarakat miskin yang mengalami ketidakadilan, atau diberi    tugas untuk melihat orang-orang miskin akibat ketidakadilan.

Inteligensi kinestetik-badani dapat diungkapkan dengan bentuk ekspresi gerak dan badan. Bentuk-bentuk seperti mendramatisir, membuat teater, membuat hands-on activities tentang materi yang dipelajari sangat membantu dalam mengungkap¬kan inteligensi kinestetik-badani. Misalnya, dalam mempelajari tumbukan, siswa dapat di dalam atau di luar kelas mempraktek-kan hukum kekekalan tumbukan dengan posisi tubuh mereka pada waktu bertabrakan dengan teman lain. Dalam topik ke¬adilan, siswa dapat mementaskan role play tentang ketidakadilan penguasa terhadap rakyat, atau membuat tarian yang menggambarkan penderitaan manusia karena ketidakadilan.
Inteligensi musikal dapat diungkapkan dengan memberikan kesempatan dan tugas kepada siswa untuk menyanyi, membuat lagu, atau mengungkapkan materi dalam bentuk suara. Guru sendiri dalam menyiapkan materi fisika, dengan topik hukum Newton II, dapat merencanakan penjelasan rumus tersebut dengan suatu lagu yang akan membuat siswa mudah mema-hami dan lebih relaks. Bila topiknya keadilan, siswa diminta untuk menuliskan lagu yang mengungkapkan suasana ke¬tidakadilan atau keadilan.

Inteligensi interpersonal dapat diekspresikan dalam bentuk kegiatan sharing, diskusi kelompok, ker ja sama membuat proyek atau praktikum bersama, permainan bersama maupun mem¬buat simulasi bersama. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa setiap siswa dalam kelompok sungguh aktif bekerja sama, sehingga kerja sama tidak dikuasai oleh satu siswa dan yang lainnya pasif. Siswa yang tidak begitu lancar bekerja sama perlu dibantu untuk lebih berani.
Inteligensi intrapersonal dapat dikembangkan dengan mem¬berikan waktu sendiri kepada siswa untuk refleksi dan berpikir sejenak. Beberapa soal yang diberikan perlu persoalan terbuka di mana siswa secara mandiri dapat mengungkapkan gagasannya. Guru sendiri perlu belajar untuk menyajikan materi de¬ngan memasukkan perasaan, humor, dan juga keseriusannya. Dengan kata lain, sikap pribadi guru perlu juga ditunjukkan untuk membantu siswa yang intrapersonal. Pada akhir pelajar¬an, baik bila siswa diminta untuk merefleksikan kegunaan pelajaran ini bagi hidup mereka.

Inteligensi lingkungan (Naturalis = Kecerdasan ke 8) dapat diungkapkan dengan mengajak siswa untuk melihat apakah topik yang dipelajari ada kaitannya dengan lingkungan hidup mereka, dengan alam tempat mereka hidup. Misalnya, dalam topik ketidakadilan, siswa dapat diajak dan melihat berbagai tanaman di hutan yang ditebang tanpa tanggung jawab sehingga mengakibatkan banjir, kekeringan, dan penderitaan orang banyak.
Inteligensi eksistensial (= kecerdasan ke 9) dapat diwujudkan dengan mengajak siswa mempertanyakan soal keberadaannya. Msalnya, dalam topik evolusi, mengajak siswa untuk mempersoalkan apakah kejadian manusia dan kita ini juga melalui evolusi tersebut? Dalam topik keadilan, siswa diajak untuk mempertanyakan apakah situasi ketidakadilan itu sesuai dengan hidup manusia dan membantu manusia sampai ke tujuannya.

Menentukan Evaluasi

Salah satu unsur yang sangat penting dalam proses pembelajar-an adalah evaluasi. Jelas evaluasi perlu disesuaikan dengan tujuan dan juga cara mengajar seorang guru. Bila dalam pembelajaran guru menggunakan inteligensi ganda, maka evaluasinya pun perlu disesuaikan dengan kemampuan inteligensi ganda. Evaluasi yang hanya mementingkan salah satu inteligensi, misalnya matematis-logis, kurang dapat mengukur seluruh kemampuan siswa.

Beberapa bentuk evaluasi berikut, yang ditekankan oleh Armstrong (1994), sangat sesuai untuk mengevaluasi siswa, senada dengan pendekatan inteligensi ganda, yaitu;
1.    Portofolio, yaitu laporan tugas-tugas siswa selama selur proses pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah lapo tertulis, hasil diskusi kelompok, hasil refleksi pribadi, tugas, gambar, laporan komputer, slide, atau video, bila pernah dibuat. Tugas-tugas informal yang pernah dikerjakan siswa, seperti catatan atau draf lagu, permainan, kerja kelompok kecil, perlu dikumpulkan pula.
2.    Penilaian selama proses belajar perlu dikumpulkan. Guru perlu selalu memantau dan memberikan penilaian singkat kepada setiap siswa selama proses belajar: selama diskusi, selama mereka bermain bersama sesuai materi, dan selama mereka aktif partisipasi dalam pembelajaran.
3.    Soal tertulis yang diberikan kepada siswa perlu juga dirumuskan sesuai dengan kesembilan inteligensi ganda tersebut. Maka, perlu ada persoalan logika, musikal, ruang, gerak,  refleksi pribadi, dan juga bahasa tertulis. Misalnya tes tentang hukum Newton II dapat berbentuk seperti berikut ini.
1)    Bagaimana rumusan hukum Newton II?
2)    Tuliskanlah dengan kata-katamu sendiri hukum Newton II dan jelaskan dengan suatu contoh!
3)    Bila ada sebuah kereta yang tadinya bergerak deng kecepatan 100 km/jam, lalu tiba-tiba diberi tambah gaya yang jauh lebih besar, yaitu dengan meningka' kan daya mesinnya, apa yang akan terjadi deng kecepatannya? Jelaskan!
4)    Buadah rangkaian suatu percobaan hukum Newto II dan amatilah bagaimana jalannya percobaan i Cobalah itu dengan teman-temanmu!
5)    Buadah suatu lagu yang menggambarkan berlakun" hukum Newton II dalam kehidupan sehari-hari!
6)    Carilah contoh kejadian sehari-hari yang mengguna kan prinsip hukum Newton II. Presentasikan conto' tersebut di depan kelas. (Suparno: 2004: 62)

Baca Selengkapnya ....

Periksa Kecerdasan Majemuk (Kecerdasan Ganda) Bagian II

Posted by Lowongan Kerja Cpns Terbaru Tuesday, November 29, 2011 0 comments
Periksa Kecerdasan Majemuk (Kecerdasan Ganda) Bagian II >>
Kecerdasan Musikal
1.     Jika bernyanyi, suara saya terbilang merdu.
2.     Saya dapat membedakan nada musik yang fals.
3.     Saya sering mendengarkan musik di radio, piringan hitam, kaset, atau CD.
4.     Saya dapat memainkan alat musik.
5.     Hidup saya akan lebih sengsara jika tidak ada musik.
6.     Kadang-kadang tanpa sadar saya melantunkan lagu iklan televise atau lagu lain sewaktu saya berjalan kaki.
7.    Dengan mudah saya mengikuti irama musik dengan alat perkusi sederhana.
8.     Saya mengenal banyak melodi dari berbagai lagu dan karya musik.
9.     Kalau saya mendengar karya musik sebanyak satu/dua kali, biasanya saya dapat menyanyikannya kembali dengan cukup tepat.
10.     Saya sering mengetuk-ngetuk atau melantunkan melodi secara sepotong-sepotong sambil bekerja, belajar, atau mempelajari sesuatu yang baru.
11.    Kekuatan Musikal lainny? …………Coba anda telusuri sendiri.

Kecerdasan Antarpribadi
1.    Saya adalah jenis orang yang didatangi orang lain untuk dimintai nasihat dan bimbingan di tempat kerja atau di tempat tinggal.
2.     Saya lebih menyukai olahraga berkelompok seperti bulutangkis, bola voli, atau sofbol daripada olahraga tunggal, seperti berenang dan joging.
3.    Kalau saya menghadapi masalah, saya cenderung mencari orang lain untuk dimintai pertolongan daripada berusaha untuk meme-cahkannya sendiri.
4.     Saya mempunyai sekurang-kurangnya tiga orang sahabat dekat.
5.     Saya lebih menyukai permainan bersama untuk mengisi waktu, seperti monopoli atau bridge daripada hiburan yang dilakukan sen¬diri, seperti bermain video game dan kartu solitaire.
6.     Saya tertantang untuk mengajari orang lain, atau kelompok orang, tentang apa yang dapat saya kerjakan.
7.    Saya menganggap diri saya sebagai pemimpin (atau orang lain menyebut saya begitu).
8.     Saya senang berada di tengah kerumuman orang.
9.    Saya suka terlibat dalam kegiatan sosial yang berhubungan dengan pekerjaan, tempat ibadah, atau komunitas tempat tinggal saya.
10.    Saya lebih suka menghabiskan petang hari di sebuah pertemuan yang meriah daripada tinggal sendirian di rumah.
11.    Kekuatan Antarpribadi lainny? …………Coba anda telusuri sendiri.

Kecerdasan Intrapribadi
1.    Secara berkala saya meluangkan waktu sendirian untuk bermedi-tasi, merenung, atau memikirkan masalah kehidupan yang penting.
2.    Saya telah mengikuti sesi bimbingan atau seminar pengembangan pribadi untuk lebih mengenal diri saya sendiri.
3.    Saya punya pendapat yang membuat saya berbeda dengan orang
4.    biasa.
5.    Saya mempunyai hobi atau minat khusus yang saya simpan rapat-rapat untuk diri saya sendiri.
6.    Saya mempunyai sasaran penting dalam hidup saya yang saya renungkan secara berkala.
7.    Saya mempunyai pandangan yang realistis tentang kelemahan dan kekuatan saya (yang saya dapatkan dari umpanbalik orang lain). Saya lebih suka menghabiskan akhir pekan sendirian di sebuah pondok di hutan daripada di sebuah tempat peristirahatan mewah dengan banyak orang di sekitarnya.
8.    Saya menganggap diri saya berkemauan keras dan berpikiran mandiri.
9.    Saya mempunyai buku harian atau jurnal untuk merekam peristiwa kehidupan batin saya.
10.    Saya berwiraswasta atau setidak-tidaknya amat ingin memulai usaha sendiri.
11.    Kekuatan Intrapribadi lainnya?.........Coba anda telusuri sendiri

Kecerdasan Naturalis (lingkungan)
1.    Kalau saya punya waktu luang saya suka membeli tanaman, atau hewan, menyiram tanaman atau member makan burung, kucing atau semacamnya.
2.    Saya senang dengan binatang/tanaman peliharaan saya.
3.    Saya suka belajar tentang alam, hewan, tumbuhan atau lainnya.
4.    Saya berharap mengunjungi kebun binatang, bila punya waktu.
5.    Saya menikmati berburu atau memancing atau semacamnya.
6.    Saya Pingin atau suka kegunung, mendaki, camping atau rekreasi ke-alam seperti itu.
7.    Tanaman atau hewan penting bagi saya.
8.    Bila saya melihat acara televise, saya menyukai acara flaura dan fauna.
9.    Saya senang waktu liburan untuk kealam luas, daripada sekadar berenang, atauke mall.
10.    Alam dan sekitarnya adalah sesuatu yang sangat mengasyikkan.
11.    Kekuatan Naturalis (Lingkungan) lainnya?.........Coba anda telusuri sendiri.

Baca Selengkapnya ....

Periksa Kecerdasan Majemuk (Kecerdasan Ganda)

Posted by Lowongan Kerja Cpns Terbaru Tuesday, November 22, 2011 0 comments
Periksa Kecerdasan Majemuk (Kecerdasan Ganda) :
Kecerdasan Linguistik
  • 1.    Buku sangat penting bagi saya.
  • 2.    Saya dapat mendengar kata-kata di kepala saya sebelum saya membaca, berbicara, atau menuliskannya.
  • 3.    Saya mendapatkan lebih banyak hal dari mendengarkan radio atau kaset yang banyak berisi kata-kata daripada televisi atau film.
  • 4.    Saya tidak mengalami kesulitan dalam permainan kata seperti Scrabble, Anagrams, atau Password.
  • 5.    Saya senang menghibur diri sendiri atau orang lain dengan lelu-con, sajak lucu lucuan, atau permainan kata.
  • 6.    Kadang-kadang orang lain terpaksa berhenti dan meminta saya untuk menjelaskan makna kata yang saya gunakan dalam tulisan atau pembicaraan saya.
  • 7.    Ketika bersekolah, saya menganggap pelajaran bahasa, studi sosial, dan sejarah lebih mudah daripada matematika dan ilmu alam.
  • 8.    Kalau saya berkendaraan di jalan bebas hambatan, saya lebih itikan kata-kata yang tertulis di papan reklame daripada memperhatikan pemandangan.
  • 9.    percakapan, saya sering mengungkapkan segala sesuatu pemah saya baca atau dengar.
  • 10.    Akhir-akhir ini saya menulis sesuatu yang amat saya banggakan atau yang membuat saya mendapat pengakuan dari orang lain.
  • 11.    Kekuatan Linguistik yang lain?................Coba anda telusuri sendiri.

Kecerdasan Logis-Matematis
1.    Dengan mudah saya dapat menghitung angka-angka dalam benak saya.
2.    Matematika dan/atau sains merupakan mata pelajaran favorit saya di sekolah.
3.    Saya suka melakukan permainan atau memecahkan soal yang menuntut pemikiran logis.
4.    Saya suka mengadakan percobaan kecil "Bagaimana seandainya" (misalnya, "Bagaimana seandainya saya melipatduakan jumlah air yang saya tuangkan ke rumpun mawar di halaman rumah setiap minggunya?").
5.    Saya selalu mencari pola keteraturan, atau urutan logis dari segala sesuatu.
6.    Saya menaruh minat pada perkembangan baru dalam sains.
7.    Saya berpendapat bahwa hampir segala sesuatu mempunyai penjelasan yang masuk akal.
8.    Kadang-kadang saya berpikir dalam konsep yang jelas, abstrak, tanpa kata, tanpa gambar.
9.    Saya sering menemukan salah penalaran dalam segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan orang di rumah maupun di tempat kerja.
10.    Saya merasa lebih nyaman bila segala sesuatu sudah diukur, dikelompokkan, dianalisis, atau dikuantifikasikan dengan cara tertentu.
11.    Kekuatan Logis-Matematis lainnya? ……..Coba anda telusuri sendiri.

Kecerdasan Spatial
1.    Saya sering melihat gambaran visual yang jelas ketika menutup kedua mata.
2.     Saya peka terhadap warna
3.    Saya sering menggunakan kamera atau camcorder untuk merekam apa yang saya lihat di sekitar saya.
4.     Saya gemar mengerjakan puzzle, maze, dan teka-teki visual lainnya.
5.     Saya mengalami mimpi yang begitu nyata di malam hari.
6.     Biasanya saya dapat mengenali jalan bahkan di wilayah yang tidak saya kenal.
7.     Saya suka menggambar atau mencoret-coret.
8.     Bagi saya, ilmu ukur lebih mudah daripada aljabar.
9.    Saya dapat dengan mudah membayangkan bagaimana sesuatu akan terlihat jika dilihat langsung dari atas dengan pandangan mata seekor burung.
10.    Saya lebih suka melihat bahan bacaan yang banyak gambarnya.
11.    Kekuatan Spasial lainnya?………………Coba anda telusuri sendiri.

Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
1.    Sekurang-kurangnya saya melakukan salah satu jenis olahraga atau kegiatan jasmani lain secara teratur
2.     Saya tidak betah duduk diam berlama-lama.
3.    Saya suka bekerja dengan kedua tangan saya dalam kegiatan konkret seperti menjahit, menenun, mengukir, bertukang, atau mera-kit model.
4.     Seringkali ide terbaik saya muncul ketika saya berada di luar rumah untuk berjalan-jalan, joging, atau ketika saya sedang melakukan kegiatan jasmani lain.
5.    Seringkali saya menghabiskan waktu luang di luar rumah.
6.    Seringkali saya menggunakan gerak-gerik tangan atau bentuk bahasa tubuh lain ketika bercakap-cakap dengan seseorang.
7.    Saya harus menyentuh bermacam-macam benda supaya lebih banyak mengetahui tentang benda tersebut.
8.     Saya senang naik permainan yang mendebarkan atau ikut dalam petualangan jasmani yang menegangkan.
9.     Saya suka menggambarkan diri saya sendiri sebagai orang yang mempunyai koordinasi tubuh yang baik.
10.    Saya harus mempraktekkan sebuah keterampilan baru bukan sekadar membaca atau menonton video tentang keterampilan itu.
11.    Kekuatan Kinestetik-Jasmani lainny? …………Coba anda telusuri sendiri.

Baca Selengkapnya ....

Multiple Intelligences Menurut Howard Gardner

Posted by Lowongan Kerja Cpns Terbaru Thursday, November 3, 2011 0 comments
Multiple Intelligences Menurut Howard Gardner : Howard Gardner lahir 11 Juni 1943, ia masuk Harvard pada tahun 1961, dengan keinginan awal, masuk Jurusan Sejarah, tetapi di bawah pengaruh Erik Erikson, ia berubah mempelajari Hubungan-sosial (gabungan psikologi, sosiologi, dan antropologi), dengan kosentrasi di psikologi klinis. Lalu ia terpengaruh oleh psikolog Jerome Bruner dan  Jean Piaget.  Setelah Ph.D di Harvard pada tahun 1971 dengan disertasi masalah “Sensitivitas pada anak-anak”, Gardner terus bekerja di Harvard, di Proyek Zero. Didirikan pada tahun 1967, Proyek Zero dikhususkan kepada kajian sistematis pemikiran artistik dan kreativitas dalam seni, serta humanistik dan disiplin ilmu, baik di tingkat individu dan kelembagaan.  Kecerdasan kata Gardner, merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.

Kita bisa mencontohkan apakah Einstein akan sukses seperti itu bila dia masuk di Jurusan Biologi atau belajar main bola dan Musik…jelas masalah fisika-teoritis Einstein, Max Planc, Stephen Howking, Newton adalah jenius-jenius, tetapi bab olah-raga maka Zidane, Jordane, Maradona adalah jenius-jenius dilapangan, juga Mozart, Bach adalah jenius-jenius dimusik. Dst..dst…juga Thoman A. Edison adalah jenius lain, demikian juga dengan para sutradara film, bagaimana mereka mampu membayangkan harus disyuting bagian ini, kemudian setelah itu, adegan ini, ini yang mesti keluar dengan pakaian jenis ini, latar suara ini, dan bahkan dialog seperti itu, ini adalah jenius-jenius bentuk lain. Disinilah Howard Gardner mengeluarkan teori baru dalam buku Frame of Mind, tentang Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk), dimana dia mengatakan bahwa era baru sudah merubah dari Test IQ yang melulu hanya test tulis (dimana didominasi oleh kemampuan Matematika dan Bahasa), menjadi Multiple Intelligences.

Intellegence (Kecerdasan) katanya adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi nyata (Gardner; 1983;1993).
Multiple intelegencies = Kecerdasan Ganda meliputi;

1.    Intelegensi Linguistik
2.    Intelegensi matematis-Logis
3.    Intelegensi Ruang-Spasial
4.    Intelegensi Kinestetik-badani
5.    Intelegensi Musik
6.    Intelegensi Interpersonal
7.    Intelegensi Intrapersonal
8.    Intelegensi lingkungan/Naturalis (Perkembangan selanjutnya dari 7)
9.    Intelegensi eksistensial (Perkembangan lebih lanjut dari 8)

Awal dalam bukunya, hanya 7 kecerdasan, tetapi dikemudian hari dan sampai sekarang berkembang menjadi 8, 9 bahkan terakhir katanya 10 kecerdasan. Kekurangan atau problem, tapi juga mungkin kelebihan, dari teori kecerdasan ganda adalah, kecerdasan ini bisa berkembang terus, sebab tergantung syarat yang bisa dipenuhinya. Gardner (dalam Frame of Mind: The Theory of multiple Intelligences; 1985) menyatakan; “kecerdasan kandidat” dalam modelnya “lebih menyerupai pertimbangan artistic ketimbang penaksiran ilmiah” (hal 63). Dengan demikian, kecerdasan tambahan sebanyak apapun bisa dimasukkan kedalam model Gardner, karena menurutnya: “Tidak ada, dan tidak akan pernah ada, daftar kecerdasan manusia yang tidak terbantahkan dan diterima secara universal….kita bisa lebih mendekati tujuan itu jika kita berpegang hanya pada satu tingkat analisis (misalnya neurofisiologis)….” (hal 60). (Barbara K. Given, “Brain-Based Teaching”, hal 75).

Gardner menetapkan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan agar dapat dimasukkan dalam teorinya; Empat diantaranya adalah;

1.    Setiap kecerdasan dapat dilambangkan  misal matematika jelas ada lambang, Musik ada lambing (not dll), kinestetik ada lambing atau irama gerak dst, lambaian tangan, untuk selamat tinggal atau mau tidur dll.
2.    Setiap Kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan  artinya tidak seperti IQ yang meyakini bahwa kecerdasan itu mutlak tetap dan sudah ditetapkan saat kelahiran atau tidak berubah, MI (Multiple Intelligences) percaya bahwa kecerdasan itu muncul pada titik tertentu dimasa kanak-kanan, mempunyai periode yang berpotensi untuk berkembang selama rentang hidup, dan berisikan pola unik yang secara berlahan atau cepat semakin merosot seiring dengan menuanya seseorang. Kecerdasan paling awal muncul adalah Musik lalu Logis-Matematis.
3.    Setiap Kecerdasan rawan terhadap cacat akibat
kerusakan atau cedera pada wilayah otak
tertentu. Misal orang dengan kerusakan
pada Lobus Frontal pada belahan otak kiri, tidak
mampu berbicara atau menulis dengan mudah,
namun tanpa kesulitan dapat menyanyi,
melukis dan menari. Orang yang lobus Temporalnya kanan yang rusak, mungkin mengalami kesulitan dibidang music tetapi dengan mudah mampu bicara, membaca dan menulis. Pasien dengan kerusakan pada Lobus oksipital belahan otak kanan mengkin mengalami kesulitan dalam mengenali wajah, membayangkan atau mengamati detail visual. (Thomas Amstrong, 1999, hal 8).
Kecerdasan linguistic ada pada belahan otak kiri, sementara music, spatial dan antarpribadi cenderung di belahan otak kanan. Kinestetik-jasmani menyangkut kortek motor, ganglia basal, dan serebellum (otak kecil). Lobus frontal mengambil peran penting pada kecerdasan intrapribadi (intrapersonal).
4.    Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasar nilai budaya.  Artinya tidak harus matematis-logis yang penting atau Spatial atau Musik atau…atau tergantung budaya masing-masing missal ada kemampun naik kuda, melacak jejak dll dalam budaya tertentu itu sangat-sangat penting dst.

Inilah empat syarat yang diberikan oleh Howard Gardner, makanya teorinya berkembang dari 7 Kecerdasan (Linguistik, Logis-Matematis, Musik, Spatial-Visual, Kenestetik, Intrerpersonal dan intrapersonal) Menjadi 9 (tambahan 2 yaitu; Naturalis dan terbaru Eksistensialis).
Adalah menarik sebagai contoh; bagaimana anda menghafal nomor telpon? Apakah anda mengulang-ngulang nomor tadi sebelum menelpon (ini berarti anda menggunakan teknik Liguistik) atau anda menbayangkan pola tombol yang harus anda tekan dalam pola peletakan tombol angka-angka (menggunakan metode Spatial-Visual) atau malah anda mengingat-ingat nada khas tiap-tiap angka (strategi Musikal).

Baca Selengkapnya ....

Perincian dan Sembilan Jenis-Jenis Kecerdasan

Posted by Lowongan Kerja Cpns Terbaru Saturday, October 29, 2011 0 comments
Perincian dan Sembilan Jenis-Jenis Kecerdasan : Jenis kecerdasan pertama, kecerdasan linguistik, adalah kecerdasan dalam mengolah kata. Ini merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Jenis pemikiran inilah yang menghasilkan King Lear karya Shakespeare, Odyssey karya Homerus, dan Kisah Seribu Satu Malam dari Arab. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargu-mentasi, meyakinkan orang, menghibur, atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya. Mereka senang bermain-main de¬ngan bunyi bahasa melalui teka-teki kata, permainan kata (pun), dan tongue twister. Kadang-kadang mereka pun mahir dalam hal-hal kecil, sebab mereka mampu mengingat berbagai fakta. Bisa jadi mereka adalah ahli sastra. Mereka gemar sekali membaca, dapat menulis dengan jelas, dan dapat mengartikan bahasa tulisan secara luas.

Jenis kecerdasan kedua, Logis-matematis, adalah kecerdasan dalam hal angka dan hgika. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan pemrogram komputer. Newton menggunakan kecerdasan ini ketika ia menemukan kalkulus. Demikian pula dengan Einstein ketika ia menyu-sun teori relativitasnya. Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-mate-matis mencakup kemampuan dalam penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab-akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.

Kecerdasan Spasial adalah jenis kecerdasan yang ketiga, mencakup bapikir dalam gambar, serta kemampuan untuk mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Siapa pun yang merancang piramida di Mesir, pasti mempunyai kecerdasan ini. Demikian pula dengan tokoh-tokoh seperti Thomas Edison, Pablo Picasso, dan Ansel Adams. Orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang tinggi hampir selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi.

Kecerdasan musikal adalah jenis kecerdasan keempat. Ciri utama kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mencerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi. Bach, Beethoven, atau Brahms, dan juga pemain gamelan Bali atau penyanyi cerita epik Yugoslavia, se-muanya mempunyai kecerdasan ini. Kecerdasan musikal juga dimiliki orang yang peka nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dan yang mendengarkan berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman tertentu.
Kecerdasan kelima, kinestetik-jasmani, adalah kecerdasan fisik. Kecer¬dasan ini mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubuh dan kete-rampilan dalam menangani benda. Atlet, pengrajin, montir, dan ahli bedah mempunyai kecerdasan kinestetik-jasmani tingkat tinggi. De¬mikian pula Charlie Chaplin, yang memanfaatkan kecerdasan ini untuk melakukan gerakan tap dance sebagai "Little Tramp". Orang dengan ke¬cerdasan fisik memiliki keterampilan dalam menjahit, bertukang, atau merakit model. Mereka juga menikmati kegiatan fisik, seperti berjalan kaki, menari, berlari, berkemah, berenang, atau berperahu. Mereka adalah orang-orang yang cekatan, indra perabanya sangat peka, tidak bisa tinggal diam, dan berminat atas segala sesuatu.

Kecerdasan keenam adalah kecerdasan Antarpribadi. Ini adalah ke¬mampuan untuk memahami dan bekerja sama dengan orang lain. Ke¬cerdasan ini terutama menuntut kemampuan untuk mencerap dan tang-gap terhadap suasana hati, perangai, niat, dan hasrat orang lain. Direk-tur sosial sebuah kapal pesiar harus mempunyai kecerdasan ini, sama halnya dengan pemimpin perusahaan besar. Seseorang yang mempunyai kecerdasan antarpribadi bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab sosial yang besar seperti Mahatma Gandhi, atau bisa juga suka memanipulasi dan licik seperti Machiavelli. Namun, mereka semua mempunyai kemampuan untuk memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, mereka dapat menjadi networker, perunding, dan guru yang ulung.

Kecerdasan Ketujuh adalah kecerdasan Intrapribadi atau kecer¬dasan dalam diri sendiri. Orang yang kecerdasan intrapribadinya sangat baik dapat dengan mudah mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi, dan menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing hidupnya. Contoh orang yang mempunyai kecerdasan ini, yaitu konselor, ahli teologi, dan wirau-sahawan. Mereka sangat mawas diri dan suka bermeditasi, berkontemplasi, atau bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam. Sebaliknya, mereka juga sangat mandiri, sangat terfokus pada tujuan, dan sangat disiplin. Secara garis besar, mereka merupakan orang yang gemar bela-jar sendiri dan lebih suka bekerja sendiri daripada bekerja dengan orang lain. (Armstrong: 1999: 3-6)
Kecerdasan kedelapan, Kecerdasan Naturalis (Lingkungan). Gardner menjelaskan inteligensi lingkungan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat membuat distingsi konsekuensial lain dalam alam natural; kemampuan untuk memahami dan menikmati alam; dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam.

Orang yang punya inteligensi lingkungan tinggi biasanya mampu hidup di luar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat identifikasi dan kla-sifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai kemam¬puan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan hidup. Salah satu contoh orang yang mungkin punya inteligensi lingkungan tinggi adalah Charles Darwin. Kemampuan Dar¬win untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi serangga, burung, ikan, mamalia, membantunya mengembangkan teori evolusi.

Inteligensi lingkungan masih dalam penelitian lebih lanjut karena masih ada yang merasa bahwa inteligensi ini sudah termasuk dalam inteligensi matematis-logis. Namun, Gardner berpendapat bahwa inteligensi ini memang berbeda dengan inteligensi matematis-logis.

Kecerdasan kesembilan, Kecerdasan Eksistensial, intelegensi ini menyangkut kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Orang tidak puas hanya menerima keadaannya, keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang ter¬dalam. Pertanyaan itu antara lain: mengapa aku ada, mengapa aku mati, apa makna dari hidup ini, bagaimana kita sampai ke tujuan hidup. Inteligensi ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia. Filsuf-filsuf seperti Sokrates, Plato, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Kindi, Ibn Rusyd, Thomas Aquinas, Descartes, Kant, Sartre, Nietzsche termasuk mempunyai inteligensi eksistensial tinggi.

Anak yang menonjol dengan inteligensi eksistensial akan mempersoalkan keberadaannya di tengah alam raya yang besar ini. Mengapa kita ada di sini? Apa peran kita dalam dunia yang besar ini? Mengapa aku ada di sekolah, di tengah teman-teman, untuk apa ini semua? Anak yang menonjol di sini sering kali mengajukan pertanyaan yang jarang dipikirkan orang, termasuk gurunya sendiri. Misalnya, tiba-tiba ia bertanya, "Apa manusia semua akan mati? Kalau semua akan mati, untuk apa aku hidup?"

Ingatlah bahwa meskipun Anda merasa sangat cocok dengan salah satu atau dua definisi di atas, sebenarnya Anda mempunyai semua kecerdasan itu. Tambahan lagi, setiap manusia normal dapat mengem-bangkan ketujuh jenis kemampuan itu sampai ke tingkat penguasaan tertentu. Setiap pribadi adalah unik, sebagaimana ketujuh/Delapan/Sembilan kecerdasan itu memperlihatkan bentuknya dalam kehidupan kita. Jarang sekali ada orang yang dapat mencapai tingkat penguasaan yang tinggi dalam enam, tujuh atau delapan kecerdasan tersebut. Ibn Sina atau Al Kindi mungkin beberapa orang dengan kecerdasan yang sangat banyak. Ia Dokter ulung, filosof, ahli bahasa, Negarawan, penulis dll, Al Kindi juga Dokter, Pemusik handal (konon katanya ia menyembuhkan penyakit orang dengan music), Filosof, penulis, penerjemah dengan penguasaan berbagai bahasa, dan pemilik kebun-binatang yang cukup luas dan lengkap. Rudolf Steiner, pemikir Jerman awal abad ke-20 juga. Ia adalah filsuf, penulis, dan ilmuwan. Ia juga menciptakan sistem dansa, teori warna, dan sistem berkebun, sekaligus pematung, ahli teori sosial, dan arsitek.

Baca Selengkapnya ....

Perlukah Test IQ? Tanya Jawab

Posted by Lowongan Kerja Cpns Terbaru Saturday, October 1, 2011 0 comments
Perlukah Test IQ? Tanya Jawab :
Assalaamualaikum wr. Wb.
Pengasuh rubrik Keluarga Sakinah yang terhormat.
Saya Ibu dari 3 anak yang terkecil  masih TK nol besar, tahun ini insya Allah akan masuk SD. Sekitar bulan Maret kemarin, di sekolah anak saya mengadakan tes IQ. Semua dianjurkan untuk ikut tes tersebut. Saya merasa heran mengapa anak kecil diminta test IQ, sedangkan anak saya yang terdahulu tidak di test IQ sewaktu di TK. Tetapi anak saya yang kedua dan pertama mengikuti test IQ sewaktu SMP dan SMA. Saya ingin tanya apakah test IQ itu perlu? Apa manfaat test IQ? Apakah bila IQ tinggi maka akan menjamin anak sukses?
Terima kasih atas jawabannya.
Nyonya Hani, di Jogja

Jawab.
Wa’alaikum salam wr. wb.
Nyonya Hani yang terhormat, untuk menjawab pertanyaan anda perlu atau tidak test IQ itu akan tergantung dari kebutuhan dan manfaatnya. Maka bila ibu ingin mengetahui IQ anak ibu, jangan hanya sekedar ikut-ikutan, tetapi harus memastikan bahwa test tersebut ada gunanya.

Memang ada banyak orangtua yang saya jumpai salah dalam mengartikan test IQ. Mereka berpikir bila IQ anaknya tinggi maka pasti anaknya akan berhasil. Orang tua merasa “ayem” melihat skor IQ anaknya tinggi, sedang yang melihat skor IQ anaknya biasa-biasa saja menganggap bahwa anaknya “bodoh” (naudzubillah mindalik). Sikap-sikap seperti itu tentu saja tidak menguntungkan bagi anak. Karena ada banyak faktor lain yang berpengaruh dalam keberhasilan. Faktor-faktor itu antara lain motivasi anak, metode pendidikan, cara guru mengajar, dan minat anak. Jadi skor IQ yang tinggi tidak jaminan untuk keberhasilan semua.

Test IQ digunakan untuk melihat kemampuan seseorang untuk berpikir secara rasional. Semakin tinggi IQ seseorang semakin cepat memahami materi dalam jumlah tertentu daripada rata-rata anak-anak seumurnya. Oleh karena itu berapa pun skor IQ yang dicapai anak hendaknya disikapi biasa saja. Yang terpenting untuk dilihat adalah kelebihan dan kekurangan si anak dan bagaimana mengembangkan potensi-potensi yang ada. Hal itu berkaitan dengan proses perkembangan dan pendidikan anak, dimana perlakuan dari orang-orang di lingkungan terdekat sangat berpengaruh pada si anak.

Untuk mengetahui segala yang berkaitan dengan hasil skor IQ dari si anak dan bagaimana cara mengembangkan potensi yang ada ibu dapat melakukan konseling yang rutin dengan seorang psikolog.
Pada umur tertentu test IQ yang dilakukan ditambah dengan pengujian taraf kematangan anak, ini biasanya dilakukan pada anak TK yaitu untuk mengetahui kesiapan anak untuk masuk SD. Berbeda dengan di TK yang hampir seluruh waktu yang digunakan untuk belajar sambil bermain, maka usia SD sudah membutuhkan kematangan emosi dan sosial anak untuk bisa duduk diam dan berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Maka, jangan heran bila kini sekolah-sekolah TK tertentu mengadakan test IQ dan test kematangan.

Sebagai tambahan berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan bila ibu hendak mengikutkan test IQ anak ibu:
•    Sebaiknya mengambil test IQ secara individual, bukan klasikal atau masal. Karena biasanya test secara individual menyediakan konseling. Dengan konseling ibu dapat mengetahui arti angka atau skor hasil test yang menunjukkan kelebihan dan kekurangan  anak dan  dapat bertanya pada psikolog bagaimana cara mengoptimalkannya. Gunakanlah waktu konseling dengan bertanya sebanyak-banyaknya pada psikolog
•    Untuk mendapatkan skor IQ yang optimal kondisi anak pada waktu test harus baik secara fisik maupun emosinya. Kondisi sakit atau tak nyaman membuat skor IQ tidak optimal.
•    Hasil test IQ bersifat rahasia dan sifatnya sangat personal.
•    Setelah mengetahui skor IQ yang penting diketahui sebagai orang tua adalah skor itu bukan segala-galanya. Yang lebih penting adalah melakukan konsultasi dengan psikolog untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan anak. Jadi IQ yang rendah bukan suatu kegagalan vonis bagi anak.

Demikian jawaban dari saya. Dengan mengetahui hal–hal tersebut diatas, semoga ibu dapat lebih bijaksana dalam mensikapi skor test IQ anak.

Baca Selengkapnya ....

Manfaat Test IQ pada Siswa (Bagian II)

Posted by Lowongan Kerja Cpns Terbaru Friday, September 23, 2011 0 comments
Manfaat Test IQ pada Siswa (Bagian II)

ASPEK SIKAP KERJA

    Dengan mengetahui aspek sikap kerja, akan sangat membantu sekolah dalam proses pembelajaran, sebagai mana di atas aspek ini mencakup :

  1. Motivasi Berprestasi : memiliki keinginan untuk berprestasi lebih baik dari orang lain dan mencoba hal yang baru untuk meraihnya.
  2. Ketelitian : mampu mengerjakan tugas secara cermat dan detail.
  3. Ketekunan : memiliki daya tahan dalam mengerjakan tugas-tugas yang rutindalam waktu cukup lama dan tidak mudah menyerah.
  4. Kecepatan : mampu menyelesaikan tugas dengan waktu yang singkat dan tetap menjaga kualitas hasilnya.
  5. Inisiatif : mampu berusaha mengambil tindakan tanpa menunggu dorongan dari oranglain dengan cara inovatif.
  6. Konsentrasi : mudah memusatkan perhatian pada tugas yang dihadapi.
  7. Daya ingat : mampu menerima informasi dan mengingatnya dalam memori.
  8. Konsistensi : konsisten dalam mengikuti pola/irama bekerja sesuai kondisi lingkungan.


ASPEK KEPRIBADIAN

    Aspek ini secara umum masih merupakan ciri-ciri kepribadian, belum dapat di pakai sebagai ketetapan baku, berbeda dengan aspek lainnya yang, maturitas aspek ini sampai batas umur 18 tahun. Dapat juga diartikan bahwa aspek ini masih dinamis sehingga dapat dilakukan tindakan tertentu untuk perkembangan yang masih dianggap perlu. Walaupun di atas telah disinggung maturitas keseluruhan aspek tersebut pada usia 18 tahun, berbeda dengan aspek inteligensi dan sikap kerja mampu memberikan gambaran yang lebih konsisten, dengan kata lain pada rentang waktu lama aspek tersebut tidah jauh berbeda dengan awalnya.

Aspek kepribadian mencakup :
  1. Kestabilan emosi : kemampuan individu untuk mengontrol emosinya dalam menerima stimulus.
  2. Kemandirian : kemampuan dalam menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa membutuhkan dorongan lingkungan.
  3. Percya diri : kemampuan untuk mengaktualisasikan kemampuannya dengan baik tanpa ragu-ragu.
  4. Hubungan sosial : kemampuan untuk menjalin komonikasi dan berempati terhadap lingkungan.
  5. Penyesuaian diri : kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan dan masalah yang dihadapi.
  6. Tanggung jawab : kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban.

    Sekolah merupakan sarana pendidikan formal bagi siswa, idealnya dapat memberikan semua yang diperlukan siswa, menjadi pelengkap dan sekaligus menciptakan sosok yang dibawa secara instingtual oleh setiap siswa.

Sekolah tidak hanya berperan sebagai transfer learning dari guru ke siswa, tidak hanya sebagai pengenal IPTEK yang tidak mengenal keadaan siswanya, maka sekolah harus memandang setiap siswa sebagai manusia seutuhnya, yang membutuhkan sentuhan dalam segala aspek, baik aspek biologis, psikologis maupun sosial, serta religi.

    Timbul pertanyaan, mampukah sekolah melakukan itu semua?, atau adakah sekolah yang sudah melakukan itu semua?. Saya yakin tidak ada satu sekolah di seluruh Ibu Pertiwi ini  yang  sudah. Yang sudah pasti di lakukan   sekolah-sekolah baru berusaha semaksimal mungkin menjalankan kurikulum yang dibakukan, bahkan banyak sekolah yang menentukan keberhasilannya hanya berbekal pada nilai yang dicapai siswanya, sehingga untuk mencapai hal tersebut banyak sekolah yang sampai memulangkan siswanya lebih lambat tanpa memperhatikan kelelahan mental dari siswanya.
    Solusi apakah yang mampu menwujutkan sokolah yang ideal?, kita banyak melihat perubahan Pendidikan dengan cara bermacam-macam, ada yang membentuk Akselerasi, SBI, sekolah unggulan, sekolah international, dll. Apakah ini ada yang memperhatikan faktor-faktor di atas tadi? Tentu semuanya tidak mampu memberi penjelasan secara konkret, anehnya banyak orang tua merasa bangga bisa mensekolahkan anaknya di tempat-tempat tersebut walaupun dengan biyaya tinggi.

    Kami mencoba sedikit memberi solusi dengan mempertimbangkan permasalahan di atas, dengan pentingnya mengetahui kemampuan siswa sedini mungkin dengan cara melakukan psikotes, tentu sangat bermanfaat baik bagi sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Karena dengan mengetahui hasil psikotes masing-masing siswa dapat dilakukan berbagai usaha guna keberhasilan proses pembelajaran. Ada pepatah yang mengatakan lebih baik menjadi kepala kucing dari pada menjadi ekor harimau, walaupun psikotes tidak mempunyai nilai absulud, tentunya dapat untuk memperkirakan sejauh mana perkembangan siswa saat itu, dan apa yang harus di lakukan untuk membantu mereka.

Baca Selengkapnya ....